Sabtu, 20 Juli 2013

hujan

 Hujan

Hujan... satu kata yang sangat berharga
22 April 2010

“Hujan? Kaukah yang datang? Kabar apalagi yang akan kau sampaikan padaku yang kesepian ini?” terawang sesosok remaja wanita melambung ke angkasa.
“Dewi? Cepat masuk, diluar hujan!” kata seorang wanita muda lainnya.
Dewi hanya menurut dan pergi meninggalkan halaman rumahnya itu. Lusa ia akan pindah ke Bali, tanah kelahirannnya. Bukannya ia tidak ingin, tapi terlalu banyak kenangan yang ia torehkan di kota kembang ini. Terutama mendiang ibunya yang terkubur tenang di tanah Sunda, menyisakan banyak peluh dan asa yang terkubur bersama jasad ibunya. Mungkin kini jasadnya sudah menjadi tulang belulang. Hanya hujan yang selalu menemani tawa ringannya dikala ia datang menjenguk sang ibu.
            Sepuluh tahun silam keluarga Dewi pindah ke Bandung dan memutuskan untuk menetap disini. Tak lama sebuah masalah melanda keluarganya. Bisnis ibunya bangkrut dan ia harus merelakan ibunya bercerai. Keluarganya semakin berantakan tak kala ayah Dewi menikah lagi, menambah sakit hati Dewi pada sang ayah. Dewi bukanlah anak yang penurut, ia di didik keras oleh ayahnya. Dewi bukanlah sosok pendendam seperti sekarang. Ini adalah hidupnya.
Berantakan, satu kata yang mewakili hidupnya. Bahkan ayanhnya pun nampak tak peduli lagi padanya, susah payah ia membujuk sang ayah agar tidak pindah kembali ke Bali. Nihil, hanya sebuah seringaian yang terlontar dari bibir ayahnya. Malaikatpun seakan tak menyampaikan pesannya pada Tuhan. Menyampaikan salam perpisahan terakhir bagi ibunya tercinta.
Tak akan ada yang mengantarkannya pergi, tak ada tangis haru perpisahan baginya. Hidupnya hanyalah sebuah kehampaan dan kesendirian. Hanya hujan yang menuntunnya memasuki pesawat pribadi milik keluarganya. Bukan masalah harta yang ia ingikan, tapi rasa sayang dan kasih dari kedua orang tuanya. Walaupun Mala bukanlah ibu kandungnya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Dewi juga haus akan kasih sayang seorang ibu.



Inilah kenyataannya, aku hanyalah seorang wanita yang merasa hampa
           
Dewi Andini

            Aku di lahirkan di Bali 24 April 1982, aku hanyalah seorang anak tunggal dari pasangan Mark Susanto dan Rindu Dwi Ayu. Ayahku adalah seseorang yang berdarah Bali-Inggris dan ibuku tulen berdarah Sunda. Ibu dan Ayahku menikah di Bali dan melanjutkan kehidupannya di Bandung dua tahun setelah aku lahir. Tuhan selalu memberkati kami selama kami tinggal di Bali. Tapi begitu kami pindah ke Bandung semuanya berubah total, dikatakan 180 derajatpun lebih. Keluarga kami mengalami kehancuran. Setelah ayah yang harus pulang pergi Bandung-Bali selama 2 tahun membuat keluarga kami merenggang. Ayah selalu membawa rekan kerja wanitanya yang tak lain adalah sekertarisnya sendiri. Aku muak meliahat ayah yang selalu bertengkar dengan ibu karena wanita itu. Mala namanya.
            Semenjak itu ibu selalu pulang larut malam dan tidak memperhatikan aku lagi. Hanya tinggal aku sendiri yang tersisa disini. Bahkan mereka tidak tahu aku mengidap penyakit SARS, penyakit yang masih bersaudara dengan pnemonia  ini menggerogoti tubuh mungil ini sejak usiaku 15 tahun. Penyakit ini terus menyebar pada sistem pernafasanku, walaupun kemungkinan untuk meninggal hanya 10% tapi mungkin aku adalah salah satunya. Hidup kadang tidak bisa di mengerti. Saat hidup berpihak padaku kami hidup layaknya keluarga bahagia yang sangat harmonis, tapi saat hidup tidak berpihak padaku semuanya berantakan dan kacau balau seperti sekarang ini.
            Karena itulah kekeluargaan kami menjadi sangat renggang. Ayah dan ibu selalu bertengkar dihadapanku, mereka selalu mempermasalahkan hal yang sama. Aku masih mengingat beberapa lantunan kata-kata kasar yang mereka ucapkan di depanku.
“kau itu seorang istri! Harusnya kau bisa mengurus anak dan keluarga dengan baik, bukannya malah keluyuran seperti ini!” bentak ayah pada ibu.
“lalu kau sendiri, hah? Kau bahkan tak pernah punya waktu untuk Dewi! Hanya sibuk mencari uang!” teriak ibu tak kalah emosi.
“apa kau bilang? Seharusnya kau yang sadar posisi! Untuk apa seorang ibu rumah tangga pergi bekerja dan pulang larut? Apa kau punya selingkuhan lain diluar sana, hah? ”
            Aku tak percaya apa yang dikatakan ayah, itu sagat menyakiti ibu. Bukankah yang terjadi malah sebaliknya? Ayah berdusta! Ayah hanya takut, pada kenyataannya ayahlah yamg memutar balikan fakta. Pertengkaran mereka tak berhenti sampai disitu, ku fikir setelah hari ini berganti mereka akan kembali rukun. Tapi apa yang terrjadi malah di luar dugaanku, pertengkaran yang lebih hebat terjadi lagi. Belum sempat matahari terbit mereka sudah bertengkar lagi.
“sepertinya benar kau punya selingkuhan lain diluar sana!” sindir ayah pada ibu.
“apalagi yang kau inginkan? Bukannya engkau yang membalikan fakta. Membawa seorang wanita seenaknya ke dalam rumah, kau tidak kasihan melihat Dewi?” ibu menanggapinya dengan tenang, tapi sebenarnya aku tahu kalau ibu sangat takut. Akupun hanya mampu bersembunyi di balik tembok.
“kau selalu saja mengaitkan masalah kita dengan Dewi. Kalau kau ingin membawa Dewi pergi, bawa saja dia pergi. Dia hanya menyusahkan di sini! Dasar anak manja”
            Perkataan ayah membuat hatiku terohok. Bagaimana mungkin ayah bisa bilang hal seperti itu padaku. Aku yang tadinya hanya bersembunyi di balik tembok lebih memilih keluar. Untuk anak berusia 12 tahun sepertiku apa yang aku tahu dulu? Aku hanya bisa bicara dengan kepala menunduk.
“ayah? ”
Sontak setelah kata itu terucap ayah dan ibu menengok padaku. Bak malaikat yang tak berdosa ibu memelukku dan ayahpun sama. Tapi banyak tersirat kebohongan yang bisa ku lihat dari mata ayah. Bukan pelukan kasih sayang.
“Dewi sudah bangun sayang? Inikan masih pagi sekali” ibu berkata sangat lembut seakan tidak terjadi apa-apa.
“ibu mau kemana? Kenapa jam segini ibu sudah rapih? Ibu mau pergi lagi ya seperti minggu lalu?
”tidak sayang, ibu hanya akan mememui relasi ibu dan akan pulang saat siang hari. Ibu juga janji akan mengajak Dewi ke taman hiburan hari ini, Dewi maukan bermain dengan ibu?”
“tapi ayah juga ikutkan, bu?” tanyaku polos
“tidak bisa sayang, ayah ada pekerjaan di kantornya. Dewi mainnya bersama ibu saja ya?” bujuk ibu padaku.
“yah ayah tidak bisa ikut, apa ayah akan bekerja dengan bibi yang kemarin itu, bu ?”
Pertanyaku membuat ayah dan ibu tercengang. Ayahpun hanya diam tak menanggapi perkataanku. Padahal aku sengaja memancingnya untuk bicara. Untuk bocah berumur 12 tahun aku di kategorikan sangat cerdas. Guru- guru di sekolahpun sama dibuat tercengangoleh kecerrdasanku. Aku sengaja melakukannya, menjadi anak pintar dan penurut, tapi nihil ibu dan ayah tidak ada yang memperhatikan prestasiku.
“Dewi tunggu dulu disini ya sebentar. Ibu akan mencoba mengajak ayah lagi.”
            Aku tahu ibu hanya berbohong, ibu hanya ingin mengelabuiku. Aku tahu ibu tidak ingin aku sedih karena masalah keluarga ini. Sebagai seorang bocah berusia 12 tahun aku sudah mengerti artinya pertengkan di dalam sebuah keluarga. Perceraian, ujung-ujungnya pasti satu kata itu yang akan menjadi kesimpulan yaitu perceraian.
            Ayah dan ibu tampak bertengkar lagi di dapur, meghiraukanku di meja makan sendirian. Tahun ini hujan datang lebih awal, aku merasa senang karena hujan adalah salah satu temanku yang paling berharga. Ketika aku hanya sendiri di rumah, gemercik air hujan yang selalu menemaniku.
            Makin hari hubungan ayah dan ibu makin renggang saja. Setiap hari ayah selalu membawa sekertarisnya itu ke rumah sampai tak terasa 5 tahunpun berlalu dengan cepat. Karena ibu yang memilih untuk mengurusku dan  lebih banyak tinggal di rumah, bisnisnya menjadi tidak terkendali dan banyak dari perilaku karyawannya yang membuat ibu sangat kecewa. Perusahaan ibu di ambang kehancuran kali ini. Ayah yang mengetahui hal ini hanya diam dingin tak menanggapi permasalahan yang ibu hadapi. Ayah lebih sering membawa sekertaris tidak tahu malunya itu ke rumah sehingga memambah beban di hati ibu.
            Ibu sempat di bawa ke rumah sakit jiwa dan mengalami depresi berat. Setahun sudah ibu mendekam dirumah para pesakitan ini. Kondisinya mulai tak stabil dan sering sakit, makanpun tidak mau. Ibu hanya mau makan bila ada aku dan satu tahun inilah kegiatanku, pulang pergi sekolah-RSJ. Dokter bilang ibu sudah tidak bisa bertahan lagi, magh kronis pun sudah menyambangi tubuhnya. Aku sudah bukan bocah berusia 12 tahun lagi sekarang aku adalah seeorang remaja berusia 18 tahun. Sudah cukup umurku untuk bertanya keputusan ayah selama 6 tahun terakhir ini, memilih ibu atau wanita simpanannya itu.
“ibu? Kumohon buka mulutmu kita makan bersama hari ini, aku yang akan menyuapi ibu” kataku memohon
“...”
“ibu~ apa ibu ingin brcerita padaku? Hal baik apa saja yang ibu temukan hari ini?” ucapku sembari memeluk ibu dari belakang.
            Memang harus sedikit sabar untuk menghadapi ibu. Ibu sudah tidak mendekam di RSJ lagi tapi di rumah pesakitan yang baru yaitu salah satu rumah sakit umum di Bandung, rumah sakit Boromeus namanya. Kesannya ibu masih mengalami gangguan jiwa, tapi sebenarnya ibu sudah sembuh dan bisa melakukan rawat jalan. Tapi tuhan memberi nasib baiik pada ibu, Tuhan tidak membiarkan ibu melihat kelakuan ayah yang semakin menjadi-jadi. Tuhan lebih memilihkan tempat yang nyaman ini. Hujan turun lagi kali ini, ikut membasahi tubuhku yang kurus kering mengahadapi kehidupan.Hujan ini tak menyurutkan niatku untuk pindah dari rumah. Ayah yang ada di meja makan hanya menatapku sekilas.  
“mau kemana kau?” ayah berucap. Aku hanya meneruskankegiatanku menggeret koper besar ini keluar.
“DEWI! AYAH TANYA KAU MAU KEMANA? KAU INI ORANG TUA SEDANG BICARA MALAH PERGI! PERILAKUMU INI TIDAK SOPAN ” suara ayah meninggi.
“kalau ayah ingin aku berlaku sopan pada ayah,lihat dulu kelakuan ayah pada ibu. Apa seperti itu sepantasnya peran seorang kepala rumah tangga? Aku ini sudah bukan anak kecil lagi ayah. Ku mohon ambilah sebuah keputusan!”
            Pikiranku kacau sekali, nada suaraku meninggi saat berbicara dengan ayah. Aku tahu in tidak benar tapi ayah yang memulai semuanya lebih dulu. Hujan di luar sanapun semakin deras saja, aku bahkan lupa hanya untuk sekedar mengambil kunci mobilku yang tertinggal di sebuah nakas kecil dekat tempat tidurku. Blous tipis yang menggantung di badanku basah kuyup dan membuatku kedinginan. Di Dago ini hanya ada sebuah halte bis kecil tempat menunggu bis dan semuanya berlalu begitu saja. Aku mendapat sebuah kabar menyedihkan dari rumah sakit. Ibu meninggal  dan aku sangat menyesal tidak berada di sisinya untuk yang terakhir kali.
24 April 2000
            Ibu meninggal tepat di hari ulang tahunku yang ke delapan belas dan lebih menyakitkan lagi ayah sudah bercerai dengan ibu satu tahun yang lalu, bertepatan saat ibu di pindahkan dari rumah sakit jiwa ke rumah sakit umum. Ayah bahkan sudah menikah dengan perempuan simpanannya itu lebih dari satu tahun yang lalu dan itulah yang menambah sakit hatiku pada ayah. Saat pemakamanpun ayah tak datang dan menyisakan luka yang amat sangat mendalam. Dan wasiat terakhir ibu adalah menitipkanku pada ayah dan memintaku untuk membangkitkan perusaan ibu yang sedang pailit. Bahkan di hari itu pun hujan turun lagi
            Sekejap banyangan kematian ibu masih berkelebat hebat di pikiranku. Hidup terkadang tidak adil, pasti akan ada yang menang dan kalah. Lusa kami akan pindah dan bertepatan dengan hari kematian ibu. Ayah bahkan tidak mengijinkanku untuk mengunjungi makam ibu untuk yyang terakhir kali. Hujan turun lagi, bahkan lebih deras dari yang sebelumnya. Ibu ku mohon maafkan anakmu yang berdosa ini karena tidak menepati janjiku. Aku janji akan pulang dan menjenguk ibu suatu saat nanti.

24 April 2010
Aku sampai di  Bali dengan kondisi yang tidak baik. Mata sembab dan kantung mata yang menebal. Depresi, munkin itu yang biasa di katakan orang-orang yang mencemoohku. Usiaku sudah menginjak 28 tahun dan aku memutuskan untuk memulai sebuah usaha kecil-kecilan sama seperti apa yang ibu kembangkan dari nol. Sebuah percetakan buku di Bali cukup menjanjikan untuk seorang anak bawang sepertiku.
Aku tinggal di sebuah desa dekat pantai Kuta jauh dengan ayahku dan Mala. Entah apa kabar wanita itu sampai sekarang, dari dulu kami memang tidak akrab hanya menyapa seperlunya saja. Apalagi setelah kami berpisah, aku sudah tidak ingin tahu apa-apalagi tentangnya.
“bu! Sudah ada seorang klien yang menunggu ibu di lobby” kata seoang karyawanku, Ketut
“baiklah, tunggu dulu sebentar aku akan mengecek persediaan kertas yang masih kita punya” ucapku ringan. Kami adalah bos dan anak buah tapi aku menganggap mereka sebagai teman dan relawan yang mau membantuku membangun usaha di Bali.
“percetakan ini barukan?” kata seorang lelaki yang mungkin adalah pelanggan kami.
“benar, kami baru mulai memproduksi 2 bulan yang lalu” jawabku ramah.
“baiklah aku tahu kalian profesional, jadi aku akan menitipkan karyaku disini. Banyak orang yang bilang hasil kerja kalian cepat dan sangat bagus hasilnya” puji lelaki itu
“kalau boleh tahu nama bapak siapa?”
“tidak usah panggil bapak, sepertinya kita juga seusia. Ini kartu namaku, aku masih ada urusan jadi nanti ku hubungi lagi” katanya sambil menyodaorkan sebuah kartu nama.
“Kadek Ari Prameswara, nama yang indah” tak ku sangka tawaku mengembang.
“orangnya juga tampan kan bu?” Kadek berkata.
“kau ini mengagetkan orang saja, cepat lanjutkan pekerjanmu.” candaku padanya. Ia hanya menurut dan melanjutkan pekerjaanya.
Bisnis percetakan kami sudah sangat lancar, relasipun makin bertambah karena semakin banyak orang yang mempercayakan karya mereka pada kami. Omset buanan kami pun meningkat drastis. Aku dan Kadek pun semakin akrab tak kala para pegawaiku sering menjodoh-jodohkan kami. Tidak ada rasa canggung di antara kami, kami menjalaninya dengan bahagia. Hari ini kami akan bertemu dengan ayah dan Mala di sebuah restoran di Ubud, Bali. Entah perasaan apa tapi aku merasa tidak enak hati dan meminta Ketut untuk menemaniku pergi. Disepanjang perjalanan kami hanya terdiam dan meresapi perasaan kami masing-masing. Tak teasa 30 menit berlalu seperti satu detik, aku tidak tahu apa yang sedang di pikirkan Ketut tapi ia seperti akan mengungkapkan sesuatu. Detik berikutnya ayah dan Mala datang menyapa hangat kami dengan senyumannya. Perasanku benar-benar kacau, takut dan seperti semua orang akan mengadiliku di depan umum. Mala, dia hanya tersenyum padaku, tak biasanya ia seperti ini.
Restoran ini mulai terasa riuh dan sesak, tapai kegiatan kami hanya makan di temani dentingan sendok dan garfu yangsaling beradu. Tiba-tiba Ketut menghentikan aktifitas makannya dan mulai mengucapkan sesuatu.
“emmm.. paman boleh aku mengungkapkan sesuatu?” tanyaKetut sakratis
“bertanyalah...” jawab ayah
“sebenarnya aku...menyukai putri paman sejak kami bertemu” aku hanya mampu membelalakan mata tidak percaya akan ucapannya itu.
“kau...” kataku terpotong oleh ucapan ayah
“persuntinglah, itukan yang ingin kau sampaikan?”
“paman! Tapi kan paman belum tahu asal usulku.”
“dia benar ayah! Ayah belum tahu asal usulnya.”
“ayah tahu dia serius, itu saja sudah menunjukan betapa ia serius padamu. Jadi jika ayah dan ibumu pergi kami bisa tenang di sana”
“kenapa ayah berkata seperti itu. Ayah tidak boleh berkata seperti itu, kenapa ayah dan Mala seakan-akan ingin pergi hari ini juga?”
“Dewi, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” setelah lama akhirnya Mala pun berbicara.
“kenapa kau juga seperti ayah, aku tidak membencimu aku hanya kesal padamu. Apa kau juga ingin pergi jauh dengan ayahku, hah?! Kau ingin membawa dia pergi juga ?” emosiku meluap luap.
            Ketut menenangkanku, ia memelukku di depan Mala dan ayah. Mereka yang melihat tersenyum haru seakan mereka sudah menemukan seorang pengganti bagiku. Malapun mengajukan permohnannya padaku. Ia ingin aku memanggilnya ibu hanya untuk hari ini. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Kami berempat pergi untuk merencanakan pernikahanku dengan Ketut. Mulai dari memilihkan gaun dan tempat bulan madu, semua Mala yang menyarankannya. Sudah lama sejak ibu kandungku meninggal aku belum pernah merasakan rasanya kebersamaan lagi. Ayah yang baru mengenal Ketut pun tampak akrab, memberi wejangan-wejangan dan semua hal yang berhubungan denganku. Mala pun sama, kupikir mereka sama sekali tidak tau bagaimana aku. Di luar dugaan mereka mengetahui semua yang ku suka dan apa yang tidak ku suka. Senja berganti gelap. Kami memutuskan makan di restoran saat tadi pagi kami bertemu. Kami duduk berhadapan saling memandang satu sama lain, tak banyak hidangan yang tersaji hanya sebuah tart coklat kesukaan ibu –Mala- yang dua hari lalu berulang tahun. Ditiupnya lilin berbentuk angka 42 itu. Raut wajahnya tampak puas begitupun dengan ayah. Nampaknya selama ini aku salah menilai mereka. Diluarsuara gaduh tak kami hiraukan, ibu memberikan suapan pertama untukku dan yang kedua untuk ayah, lantas Ketut. Diluar dugaan sebuah tembakan melesat di depanku dan menghantam segelas wine yang ku pegang. Detik selanjutya ibu datang dan memeluku di dalam tubuh kurusnya. Peluru itu tidak jadi bersarang di tubuhku malah bersarang di tubuh ibu sampai menembus tulang iganya. Serangan geranat pun lantas menyusul, berdentum diantara teriakan orang-orang yang paniknya nyaris sama dengan kepanikanku. Ayah menggenggam tanganku erat, menghantarku pergi dan masuk lagi menjemput ibu disarang kematian itu. Teror yang tak berujung membuat banyak nyawa melayang.
            Bom Bali, itulah teror yang melanda Bali satu minggu yang lalu. Banyak yang terbunuh. Teroris-teroris itu meghancurkan hariku yang baru, hidup sebagai anak yang mendapat perhatian lebih kini lenyap. Nisan itu bertuliskan tiga nama orang yang sangat  kucintai, Rindu Dwi Ayu (24-04-2000), Mark Susanto (24-08-2012), dan Mala Kadita (24-08-2012). Di depan ketiga pusara itu aku berjanji akan kembali dengan bahagia. Hidup dengan Ketut dan kembali sebagai Dewi Andini yang baru. Hujan turun lagi menemani langkahku bersama Ketut.          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar